Showing posts with label sepakbola. Show all posts
Showing posts with label sepakbola. Show all posts

Tuesday, June 30, 2015

Indonesia Butuh Petualang

Dedi Gusmawan tampil baik dalam 2 pertandingan Myanmar National League 2015 bersama klub barunya Zeyar Shwe Myay (dibaca zeja se mye). Kabar tersebut, meski baru sebatas berita tulisan karena setelah ngubek - ngubek Youtube dan nanya ke mbah google belum dapat video highlight penampilan Dedi ketika melawan Yadanarbon dan Rakhine United, terasa menyejukkan ditengah kobaran api perseteruan yang kini semakin membesar setelah KONI ikut menyiramkan bensin (entah premium atau pertamax) pada perselisihan ini.

Kemudian muncul lagi berita dari www.footballchannel.asia, tiga pemain timnas U-23 menerima undangan trial dari beberapa klub Jepang. Evan Dimas, Adam Alis, dan Hansamu Yama Pranata akan mengikuti jejak Andik Vermansyah, Syakir Sulaiman, Irfan Bachdim dan Stefano Lilipaly mengikuti trial di Jepang. Hanya Irfan Bachdim yang bertahan mendapatkan kontrak di Ventforet Kofu dan kali ini di Consadole Sapporo. Stefano Lilipaly hanya menjalani semusim bersama Consadole Sapporo.


Akhir tahun 2014 tiga pesepakbola muda juga pernah mengikuti trial bersama Jubilo Iwata U-18. Syamsir Alam, Gavin Kwan Adsit dan Ryuji Utomo. Gavin termasuk pesepakbola dengan jiwa petualang. Ia pernah bersama CFR Cluj Rumania, TSV Niendofer Jerman, sempat pula menjalani trial di FC Tokyo pertengahan 2014. Musim ini ia membela Mitra Kukar, sayang kompetisi keburu dibubarkan sebelum aksinya bisa dinikmati lebih jauh.

Petualang. Kata tersebut mengingatkan kepada sosok Arthur Irawan yang sedang bermain untuk Waasland-beveren Belgia. Mulai dari Lytham Town Inggris,  Espanyol B hingga Malaga B pernah pemuda ini jajal meskipun untuk ditimnas ia lebih sering gagal lolos seleksi.


Tiba - tiba saya jadi ingat tarkam. Bukanlah sebuah bentuk petualangan, meskipun seorang pemain berlevel nasional rela bermain dilapangan ala kadarnya dengan resiko cedera tinggi didaerah - daerah. Tarkam adalah sebuah bentuk penghasilan sampingan yang tengah naik daun digembar - gemborkan ditengah penghentian kompetisi resmi menjadi perlambang derita pemain karena mereka harus mengais pendapatan hingga ke pelosok, meskipun ketika kompetisi berjalan lancar musim - musim lalu pun banyak pemain ikutan tarkam bahkan ditengah kompetisi.

Pemain - pemain Indonesia masih belum banyak yang mempunyai pemikiran untuk bertualang. Kebanyakan hanya berpindah - pindah klub setiap musim Liga Indonesia berganti. Jika diurutkan para pemain yang pernah berkarir di luar negeri dari tahun 90an rasanya jumlahnya tidak akan mencapai 50 pemain.

Mereka yang berstatus pernah adalah Bima Sakti, Kurnia Sandi, Kurniawan Dwi Yulianto, Rochi Putiray, Elie Aiboy, Bambang Pamungkas, Budi Santoso, Ponaryo Astaman, Hamka Hamzah, Patrich Wanggai, Yandi Sofyan, Alfin Tuasalamony, Manahati Lestusen, Gavin Kwan Adsit, Victor Igbonefo, Stefano Lilipaly.

Mereka yang berstatus masih Irfan Bachdim, Sergio Van Dijk, Andik Vermansyah, Dedi Gusmawan, Greg Nwokolo, Arthur Irawan, Yussa Nugraha (Feyenoord C1).


Mungkin ada yang terlewat. Terutama para pemain naturalisasi yang memang tidak dimasukkan seperti Joey Suk, Ruben Wuarbanaran. 

Baru kemudian kita mendengar Ahmad Jufriyanto, M. Taufiq dan Dedi Kusnandar menyatakan ingin bermain diluar negeri ditengah kondisi sepakbola yang carut marut. Perlukah menunggu kompetisi dalam negeri dihentikan agar para pemain mempunyai jiwa petualang?

Lantas apa pentingnya mempunyai keinginan untuk bertualang ke negeri orang? Bukankah kita diajarkan istilah hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari hujan emas dinegeri orang? Mungkin kalau batunya batu akik ukuran cincin yang sekali jual harganya jutaan tentulah istilah ini bisa berlaku, tetapi ketika trend batu akik sudah sepi apakah masih berlaku? Karena para pemain lama dalam usaha batu pun klien nya kebanyakan dari luar negeri, nah lho!!.

Jika dilihat dari kacamata timnas, maka kebutuhan para pemain dengan jiwa petualang ini sangatlah tinggi. Sudah seringkali kita melihat mental bertanding timnas dengan kepala tertunduk ketika harus bertemu lawan bertubuh tinggi, garis wajah beda, dan warna kulit berbeda.

Sering juga kita mendengar bahwa kurikulum sepakbola Indonesia sudah ketinggalan. Pelatih timnas sering dipusingkan karena ketika pelatnas dilaksanakan hal yang seharusnya sudah tidak perlu dilatih lagi seperti skill menahan bola terpaksa dijadikan agenda latihan. Selama itu terdengar selama itu pula PSSI tidak memodernkan kurikulum sepakbola Indonesia. VO2 max pemain kita rendah dan selalu membuat pelatih timnas kewalahan, namun selama itu pula tidak ada gagasan untuk meningkatkan fisik dan stamina  pemain.

Infrastruktur sepakbola kita sudah tertinggal. Tidak semua pemain di Indonesia merasakan bermain dilapangan yang rata, rumput terawat, membuat bola mulus melaju. Verifikasi dilakukan setiap Liga Indonesia akan berlangsung tapi selama itu pula tidak ada perubahan berarti.

Gaji tidak lancar, bahkan terhutang berbulan - bulan tapi jarang ada pemain yang "bosan" dengan kondisi yang seperti dibiarkan terjadi bertahun - tahun ini.

Indonesia butuh para petualang untuk merubah keadaan. Setidaknya jika mereka sudah terbiasa bertanding, berkumpul dengan para pemain dari berbagai negara, tidak akan ada lagi kepala yang tertunduk dan kaki gemetar ketika bertanding melawan kesebelasan negara lain sehebat apapun mereka.

Apalagi dalam kondisi seperti ini, mumpung sanksi FIFA tidak menyentuh kepada nasib pemain, maka sebaiknya berlomba - lombalah bermain di luar negeri.  Jangan hanya puas mendapat reputasi pemain berbakat dirumah sendiri, tapi buktikan apakah mampu mendapatkan reputasi itu dinegara orang. Jika dengan motif ekonomi jangan hanya puas dibayar dengan Rupiah tapi rasakan juga dibayar dengan Dolar, Yen, Dinar dan lainnya.

Jadilah para petualang daripada menunggu tanpa kepastian. Jika pun semuanya kembali berjalan belum tentu ada perubahan.




Tuesday, June 16, 2015

Aji Santoso Terbantahkan!!

Pasca kekalahan Indonesia atas Vietnam, pelatih Indonesia Aji Santoso mengeluarkan statement pada salah satu media olahraga online yang isinya ia menanggung semua kegagalan ini, dan menyalahkan persiapan yang hanya 20 hari sebelum berangkat ke Sea Games 2015.

Sebelumnya saat kalah di pertandingan perdana atas Myanmar, Aji mengatakan bahwa inilah efek sanksi FIFA. Dua alasan seakan menjadi dasar bagi kegagalan timnas U-23 setidaknya mempertahankan medali perak yang berturut - turut diraih pada Sea Games 2011 dan 2013.

Tapi benarkah? well Aji Santoso mempunyai pandangannya sendiri dan sah - sah saja ia menyalahkan dua kondisi diatas. Tetapi bagi penonton sepakbola Indonesia khususnya timnas sudah bosan menerima alasan demi alasan dari siapapun alasan itu terucap.

Dalam satu berita terbaru pagi ini (16/06) Thailand hanya mempersiapkan kesebelasan perebut medali emas Sea Games 2015 dalam jangka waktu 10 hari saja. Sebelumnya mereka harus bergabung dengan klub. 

Alasan Aji Santoso jelas terbantahkan. Lama atau sebentar waktu persiapan bisa saja berpengaruh bisa juga tidak berpengaruh. Tergantung seberapa banyak hal yang harus diperbaiki selama masa persiapan tersebut.

Kenapa Aji tidak dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia tidak memiliki kompetisi untuk para pemain muda yang teratur, terstruktur. Jika dalam kondisi QNB League berjalan pun tidak akan semua pemain timnas U-23 dimainkan diklubnya masing - masing. Lain halnya jika para pemain muda itu punya tempat tersendiri.ISL U-21, Piala Suratin, bukanlah tempat ideal untuk menumbuhkan pemain - pemain yang teruji dan berpengalaman. Terlalu sedikit frekuensi pertandingan per tahun.

Pemain muda Indonesia terlalu banyak berlatih daripada turun ke dunia nyata.

Menyoal sanksi FIFA. Evan Dimas mengatakan bahwa mereka hanya terganggu diawal saja dan kemudian tidak terlalu mempermasalahkan sanksi tersebut dan fokus membela timnas U-23.

Dua alasan Aji Santoso sudah terbantahkan dan bukti dilapangan pun mengatakan bahwa taktik dan strategi Indonesia, termasuk mental dan fisik pemain sudah tidak mampu menandingi Thailand, Myanmar dan Vietnam.

Kita Semakin Tertinggal!.

Monday, June 8, 2015

Beware Indonesia..Myanmar is coming

Myanmar. Negara yang kini sedang ramai diperbincangkan karena mengusir etnis Rohingya  dari wilayah yang dulu bernama Birma. Beberapa negara termasuk Indonesia khususnya Aceh, kini menjadi rumah sementara bagi umat muslim minoritas tersebut setelah terapung - apung di lautan.

Namun kita tidak akan berbicara soal itu meski tetap mengutuk perilaku Pemerintah Myanmar. Kita berbicara tentang kemajuan pesat sepakbola Myanmar. Pesat dengan ukuran sebagai wakil Asia Tenggara pada Piala Dunia U-20 Selandia Baru, semifinalis Piala Asia U-19 tahun 2014, Juara Hassanal Bolkiah Trophy 2014 dan memastikan lolos ke semifinal Sea Games Singapura 2015 tanpa cacat sejauh ini (termasuk mengalahkan Indonesia).

Semua catatan diatas merupakan prestasi para pesepakbola level umur (U-19, U-20, dan U-23) di Myanmar. Tidaklah aneh karena dipimpin oleh konglomerat Myanmar, Zaw Zaw, MFF (Myanmar Football Federation) memang memfokuskan pada pembinaan usia muda.

Beberapa kerjasama dengan pembangunan akademi sepakbola dilakukan oleh MFF seperti bekerjasama dengan klub Albirex Niigata. Selain itu juga bekerjasama dengan klub Gamba Osaka dan Panasonic menyelenggarakan football clinic. MFF juga menjalin kerjasama dengan perusahaan telekomunikasi Ooredoo yang menghadirkan coaching clinic sebagai bagian kerjasama Ooredoo dengan Paris Saint Germain.

Pembenahan infrastruktur pun dilakukan seperti merehab fasilitas latihan timnas U-23 di kota Yangon. Pada tahun 2010 MFF bersama FIFA membangun Mandalay Football Academy dan pada tahun 2012 mendirikan Pathein Football Academy.


Pathein Football Academy ( Ayeyawady )


Pembenahan juga dilaksanakan pada sisi kompetisi dengan merilis Myanmar National League sejak tahun 2009. Dengan adanya kompetisi ini maka status kompetisi menjadi profesional. Selain itu juga melengkapi dengan kompetisi lainnya seperti MFF Cup dan Myanmar National League Cup. Berdasarkan data yang didapat timnas Myanmar U-19 bergabung di MNL-2 sebagai tim tamu pada kompetisi divisi 2 tersebut.

Bukan hanya pembenahan pada timnas pria. Karena dengan kerjasama FIFA, mereka juga mengembangkan sepakbola wanita. Saat ini statusnya bisa dibilang sebagai penguasa Asia Tenggara bersama Thailand dan Vietnam. Runner up Piala AFF 2015, merebut medali perunggu Sea Games 2013, perwakilan Asia Tenggara di Piala Asia 2010 dan 2014 adalah beberapa prestasi terakhir timnas wanita Myanmar.





Pembinaan sepakbola usia muda juga dilakukan oleh Myanmar dengan menyelenggarakan MNL Youth atau MNL U-12 hasil kerjasama dengan Kementerian Pendidikan. MFF juga menyelenggarakan kompetisi wanita dengan tajuk MFF Digicel's Cup.

Dengan pembangunan yang terus dilaksanakan tak heran Myanmar menjadi salah satu pesaing serius Indonesia dikawasan Asia Tenggara. Bahkan ga aneh juga Indonesia berhasil dikalahkan dengan skor mencolok.

Prestasi Myanmar bukan hanya dilapangan tetapi juga dalam manajemen sepakbola, penghargaan AFC Dream Asia pada tahun 2013 menjadi salah satu bukti perkembangan sepakbola Myanmar.

Indonesia? kok malah berantem....



Thursday, June 4, 2015

PSSI : No Wonder!!

Tidak adakah pilihan yang lain?. Berbekal medali perak Sea Games tahun 2011 saat masih berposisi sebagai asisten pelatih. Aji Santoso hampir selalu dijadikan pilihan oleh PSSI sebagai pelatih timnas under 23.

Meneruskan kursi kepelatihan dari Rahmad Darmawan, mantan bek kiri timnas ini menempati kursi pelatih timnas U-23 pada tahun 2012 - 2013. Setahun berselang Rahmad Darmawan kembali menempati posisi pelatih dan kemudian PSSI memberikan Aji Santoso kepercayaan dari tahun 2014.

Kualifikasi Piala Asia U-23 2016 menjadi kegagalan Aji Santoso.  Hanya mampu menang atas Brunei dan Timor Leste, Indonesia gagal meraih gelar runner up terbaik, karena kalah atas Korea Selatan di pertandingan terakhir.

Kini pelatih kelahiran Malang ini mengeluarkan apologi atas kekalahan Indonesia pada pertandingan pertama Sea Games 2015 Singapura. Ia mengatakan bahwa sanksi FIFA adalah sebuah alasan utama kenapa Myanmar sanggup mengalahkan Indonesia. Benarkah demikian?.

Diluar efek sanksi (jikapun memang ada), kondisi dilapangan mengatakan hal lain. Penampilan Myanmar seakan menasbihkan mereka memang layak mewakili Asia Tenggara pada Piala Dunia U-20 Selandia Baru yang juga sedang digelar.

Indonesia kalah strategi dan taktik. Myanmar sudah hapal bahwa jantung permainan ada di Evan Dimas dan bagaimana alur serangan Indonesia akan dibangun sehingga mereka bisa mencegah permainan Garuda Muda berkembang. Dua gol Indonesia dicetak lewat aksi individu bukan permainan tim.

Jujur selama Aji Santoso yang memegang, permainan timnas cenderung stagnan. Tidak ada perubahan - perubahan yang berarti dalam teknik permainan. Lebih dari itu rasanya mantan pelatih Persebaya ini juga belum bisa bertindak sebagai motivator tim.

Pernyataan yang dikeluarkannya setelah pertandingan melawan Myanmar adalah kalimat hampa dan pengesahan bahwa Myanmar telah maju dari Indonesia. PSSI miskin pilihan pelatih, gagal menumbuhkan pelatih - pelatih yang berkualitas. Jika dilihat dari pemilihan pelatih asal Indonesia, maka nama - nama yang beredar adalah itu - itu saja.






Tapi tak adil jika hanya menyalahkan Aji Santoso. Bagaimanapun PSSI yang kini sedang terkena sanksi luput menyediakan wadah pembinaan para pemain muda. Pola pembinaan yang dilakukan PSSI sama saja dari tahun ke tahun. Mengumpulkan pemain dalam jangka waktu lama, mengikutsertakan dalam suatu kompetisi terus menerus diulangi meski hasilnya nol. Primavera, Baretti, SAD Uruguay gagal mengangkat martabat sepakbola Indonesia.

Berhasil hanya dalam melahirkan indvidu - individu berbakat tetapi gagal menyatukan dalam satu kepaduan. Piala Asia U-19 tahun lalu membuktikan, Indonesia adalah negara yang tidak mempunyai liga sepakbola U-19 dan tingkatan umur dibawahnya.

PSSI tidak bereaksi cepat ketika Piala AFF U-19 tahun 2013 berhasil dimenangkan. Malah reaksinya membuat tour nusantara jilid I dan II yang tidak membawa dampak apa - apa terhadap permainan Evan Dimas dkk. Maka tak aneh jika nasib PSSI seperti sekarang, karena jarang berbenah.

Jika kondisi ini masih sama sampai tahun depan ( sanksi tidak dicabut, miskin kompetisi ) bukan tidak mungkin, Kamboja yang mengangkangi Indonesia. Tidaklah aneh jika gonjang - ganjing ini terjadi, walau dengan alasan apapun, tetapi PSSI memang gagal mengamankan diri mereka. Mereka seharusnya aman dengan jika terus berubah dan berinovasi ke arah yang lebih baik.

Entahlah secara umum sepakbola Asia Tenggara memang begitu - begitu saja, dan sialnya PSSI pun juga begitu - begitu saja.

Saturday, May 30, 2015

Sanksi FIFA dan Kagok Edan

Akhirnya sanksi turun juga. Badan Sepakbola Dunia (FIFA) merilis surat pemberian sanksi kepada PSSI sebagai konsekuensi atas pertempuran Menpora vs PSSI. Dengan batas waktu yang ditentukan alias tergantung secepat apa Indonesia bisa membereskan kisruh ini. Berkaca pada penjatuhan sanksi kepada Kamerun, FIFA kembali mencabut sanksi hanya dalam waktu 3 minggu karena Kamerun cepat berbenah dan berdamai.

Indonesia? rasanya belum bisa dipastikan. Karena Menpora tetap keukeuh dengan pilihannya bahkan bisa dibilang kagok edan, kepalang basah daripada kena malu. PSSI dengan tameng statuta FIFA tidak mau eksklusifitasnya terganggu dan tetap pada pendirian, Pemerintah cukup sebagai penonton saja, meskipun fakta berbicara mereka tidak bisa apa - apa bahkan untuk meminta izin pertandingan sekalipun dari pihak keamanan.
Sama - sama teguh pendirian, korbannya sudah bergelimpangan. Beberapa klub sudah memutus kontrak pemain, bahkan para pemain sekarang nyambi main tarkam demi menyambung hidup. Jangan tanya tentang prestasi timnas, kompetisi saja tidak ada. Bahkan perusahaan - perusahaan yang mendanai klub kabarnya akan memutus kontrak. Rakyat? kehilangan hiburan.





Negara demokratis tetapi dalam hal sepakbola tidak bisa menerapkan, karena memang FIFA sendiri sudah otoriter. Negara didalam negara itulah salah satu sindiran kepada FIFA. Bahkan dalam penyelenggaraan Piala Dunia Brazil 2014 mereka membuat pengadilannya sendiri yang menindak setiap kriminalisme dalam penyelenggaran Piala Dunia dalam waktu singkat.

Tak usah menyalahkan PSSI yang arogan, karena ortu-nya sendiri arogan. Walau kondisinya mereka juga sangat membutuhkan partisipasi dan dukungan Pemerintah dalam setiap agenda mereka. Masih dalam Piala Dunia Brazil 2014, bagaimana FIFA berani "melanggar" aturan Pemerintah Brazil tentang penjualan alkohol distadion, karena salah satu sponsor Piala dunia adalah perusahaan minuman alkohol.

Menpora yang tidak belajar dari pengalaman pendahulunya, Andi Mallarangeng, saat merestui IPL bergulir dan membiarkan kompetisi resmi ditinggal beberapa pesertanya, juga minim strategi dalam merombak sepakbola. Dia lebih memilih menghajar  dengan keras juga daripada dengan strategi keras dan lunak.

Sampai kapan sanksi ini berlangsung? sampai satu pihak mengibarkan bendera putih. Rekonsiliasi, perdamaian ? rasanya hanya mimpi. Tapi kalau keduanya masih sama keras dan tidak mau kehilangan harga diri, ya sudahlah rasanya kita harus membuat liga provinsi yang levelnya amatir.


Wednesday, May 27, 2015

Persib Kalah Taktik & Minim Pilihan

Langkah Persib di kompetisi Asia setelah vakum selama 20 tahun harus terhenti setelah dikalahkan Kitchee SC 0-2 ( 27/05 ) pada babak 16 besar AFC Cup 2015. Persib mengubur ambisi untuk menapaki jejak Persipura musim lalu lolos ke babak semifinal.

Klub juara Hongkong Premiere League ini berhasil mengalahkan Persib dengan taktik counter attack yang efisien. Cukup beberapa sentuhan. Sedangkan Persib terus - terusan memborbadir sisi kiri Kitchee SC gagal membuka ruang dan peluang.

Penguasaan bola dimenangkan Persib, tapi tak berarti apa - apa karena tidak membukukan gol. Bahkan jarang serangan terbangun sampai pada tahap membahayakan, hanya menerobos kotak penalti dan kebingungan ngapain selanjutnya.

Persib miskin taktik. Terus - terusan mencoba membuka pertahanan lawan melalui sayap namun Kitchee SC yang tahun lalu mengalahkan Arema di babak 16 besar rupanya sudah siap untuk mengatasi dengan kedisiplinan para pemain mereka.


Disisi lain penurunan performa pertahanan Persib, kebobolan 5 gol dalam 2 pertandingan terakhir, plus absennya Vladimir Vujovic, membuahkan gol pertama Kitchee SC yang dicetak oleh Juan Belencoso. Ahmad Jufriyanto yang coba menghadang umpan silang dari kanan salah memprediksi jatuhnya bola dan abai terhadap striker Spanyol tersebut yang berhasil menambah jumlah golnya menjadi 6 gol pada AFC Cup tahun ini.

Lam Ka wai, pemain yang diwanti - wanti oleh Dejan Antonic untuk diawasi menambah derita Persib dibabak pertama setelah memanfaatkan bola liar tendangan bebas dan terhalangnya pandangan kiper I Made Wirawan.

Babak kedua, Persib tetap menguasai jalannya pertandingan. Namun Kitchee sudah keburu "parkir bus" meski begitu beberapa serangan balik mereka dengan 3-4 pemain masih menyulitkan Persib. Penyakit ini sudah dialami Persib sejak melawan Ayeyawady United, kesulitan menghadapi lawan yang mampu memposisikan diri diruang kosong.

Minimnya pilihan pemain membuat Persib semakin kebingungan mengalirkan bola di lini depan. Goyangan Tantan ke kotak penalti lawan, tidak menghasilkan apapun karena ia lebih konsen membuka dan melepaskan umpan.Coach Jajang Nurjaman dan Emral Abus, lebih banyak mengotak - atik lini tengah dengan memasukan M.Taufiq, Dedi Kusnandar, dan Dias Angga. Meski ada seorang striker di bench, Rudiyana, namun tidak kunjung diturunkan. Kitchee tampaknya sudah hapal gaya coming from behind para gelandang Persib sehingga merapatkan pertahanan dengan jarak antar pemain yang dekat.

Lainnya ini juga membuktikan kalau Persib kalah dari segi pengalaman. Kitchee merupakan semifinalis musim lalu dan sejak tahun 2012 rutin mengikuti AFC Cup. Persib vakum 20 tahun dan tidak banyak melakukan ujicoba dengan lawan setara musim ini.

Better luck next year, Persib!

Tuesday, May 26, 2015

Para Debutan Musim 2015/2016

Usainya beberapa kompetisi top Eropa tidak hanya menghasilkan juara dan klub - klub yang berhak lolos ke kompetisi level eropa musim depan tetapi juga klub - klub yang menyandang status promosi degradasi.

Musim ini tiga negara memunculkan klub - klub yang berhak berlaga di pentas teratas sepakbola musim depan dengan status debutan. Bournemouth di Liga Inggris, Carpi  dan Frosinone di Serie A, Ingolstadt 04 di Bundesliga, dan juga yang masih berstatus calon lolos langsung, Girona FC di segunda division Spanyol.

A.F.C Bournemouth akan berlaga musim depan di Premier League untuk pertama kali dalam sejarah mereka sejak klub yang dimiliki Maxim Demin menjuarai The Championship musim 2014/2015. Menyandang nama A.F.C Bournemouth sejak tahun 1972 ( setelah sebelumnya Bournemouth and Boscombe Athletic Football Club ), klub ini promosi ke level teratas sepakbola Inggris setelah 125 tahun keberadaan mereka.



Dimanageri oleh local legend, Eddie Howe ( semasa bermain mencatatkan 273 kali pertandingan bersama A.F.C Bournemouth ), klub yang dibeli Maxim Demin pada tahun 2011 dengan dana sekitar 850.000 Poundsterling, mulai merangkak sejak musim 2008/2009 ketika mereka masih berlaga di League Two.

Musim ini menjadi pencapaian terbaik bagi klub berjuluk "the cherries" ini. Menjadi kampiun The Championship mengangkangi klub - klub yang menjadi favorit promosi ke Premier League. Ada beberapa nama sentral dalam pencapaian mereka musim ini seperti Artur Boruc, penjaga gawang Polandia yang dipinjam dari Southampton, Dan Gosling eks Everton, Callum Wilson dan Yann Kermogant striker asal Prancis.

Beredar kabar bahwa klub yang berdomisili di stadion Dean Court dengan kapasitas 11,700 penonton ini mengincar Dimitar Berbatov ( AS Monaco ) untuk menjadi bagian skuad mereka musim depan.

Carpi FC 1909 klub yang berasal dari provinsi Modena pertama kali berdiri pada tahun 1909. Setelah sempat mengalami kebangkrutan klub dan didegradasi ke Serie D, klub ini kembali bangkit pada tahun 2002 dengan nama Calcio Carpi.

Hanya butuh dua musim saja di Serie B untuk naik ke Serie A, kompetisi yang belum pernah mereka masuki sejak berdiri, jatuh dan bangkit. Pertama kali promosi ke Serie B pada musim 2013/2014 setelah mengalahkan Lecce pada playoff Girone A.



Ditangani oleh Fabrizio Castori (manajer yang memulai karir melatih sejak usia 26 tahun) klub berjuluk "Biancorosi" ini berhak tampil di Serie A musim depan setelah menjuarai Serie B dengan keunggulan 9 poin dari runner up yang juga sama - sama lolos dan debutan Frosinone Calcio.

Carpi Calcio mengandalkan beberapa pemain pinjaman dimusim ini seperti Gabriel (AC Milan),  Roberto Inglese (Chievo). Penyerang andalan mereka adalah Jerry Mbakogu asal Nigeria yang musim ini mencetak 20 gol untuk Carpi.

Sementara Frosinone Calcio yang didirikan pada tahun 1912 justru baru kembali lagi ke Serie B dimusim ini. Namun kehadiran mereka di Serie B tidak hanya sekedar numpang lewat karena langsung bisa mengejutkan klub lain di Serie B.

Sama pernah merasakan kebangkrutan di tahun 1990, klub ini memiliki home base di Stadion Comunale Matusa dengan kapasitas 9.680 penonton. Rekor penonton terbanyak klub ini adalah pada tahun 1988-1989 dengan 12.000 penonton.


Hadirnya Frosinone musim depan dengan menjadi runner up Serie B musim ini, mengandalkan beberapa pemain seperti Mario Santana (eks Fiorentina), Arturo Lupoli (Arsenal), dan pinjaman dari Sparta Praha, Manuel Pamic.

Bundesliga 2015/2016 pun kedatangan klub debutan dengan lolosnya FC Ingolstad 04. Klub yang memutarkan lagu "thunderstruck" milik AC/DC sebelum kick off pertandingan di stadion mereka, Audi Sportpark, baru dibentuk pada tahun 2004.



Lolos ke Bundesliga setelah menjuarai 2.Bundesliga setelah mengemas 17 kemenangan, 13 imbang, dan 4 kekalahan. Menempatkan juga Pascal Grob sebagai pemain dengan assist terbanyak dengan 16 assist.

FC Ingolstad sendiri merupakan klub hasil merger antara  ESV Ingolstadt dan MTV Ingolstadt pada tahun 2004. Perlahan mereka mulai naik divisi dari Oberliga Bayern, Regionalliga Sud, 3.liga dan musim ini di 2.bundesliga.

Sedangkan di Segunda Division Girona CF masih harus menunggu 2 pertandingan lagi untuk memastikan lolos langsung sebagai runner up ke La Liga musim depan. Pesaing terdekat mereka adalah peringkat 3, Sporting Gijon, yang hanya berselisih 2 poin.

Saturday, May 23, 2015

Dua Topskor Eredivisie Yang Gagal Di Premiere League

Ketika graziano pelle memutuskan untuk hijrah dari Feyenoord ke Southampton, striker Italia ini bisa dibilang mengambil langkah yang cukup beresiko. Bukan hanya beradaptasi dengan gaya sepakbola yang baru tetapi ia juga menyandang beban historis karena sebagai penyerang "lulusan" liga Belanda ia harus berkaca kepada kegagalan dua penyerang tajam eks Liga Belanda yang justru kehilangan ketajamannya ketika mereka memutuskan pindah ke Liga Inggris.


Mateja Kezman. Striker yang menghabiskan 4 musim bersama PSv Eindhoven. Membangun kerjasama apik bersama Arjen Robben dan mencetak 105 gol dari 122 penampilannya bersama PSV. Meraih gelar topskor Eredivisie pada musim 2000-2001, 2002-2003, dan 2003-2004. Chelsea ketika itu dimanajeri oleh Jose Mourinho meminang striker Serbia & Montenegro ini dimusim 2004-2005.

Sayang kontrak senilai 5.3 juta poundsterling serta jersey nomor 9 yang diwariskan oleh penyerang haus gol asal belanda Jimmy Floyd Hasselbaink tidak berarti banyak bagi Kezman. Tampil di 25 pertandingan, ia hanya mencetak 4 gol. Total 7 gol ia cetak untuk Chelsea diberbagai kompetisi musim itu. Padahal di Liga Belanda saldo golnya selalu menyentuh angka 20.

Tidak ada jawaban pasti kenapa ia sampai kehilangan ketajamannya. Pastinya ia menambah daftar striker haus gol yang menjadi mandul di Chelsea bersama Andriy Shevchenko, Adrian Mutu, Hernan Crespo dan Claudio Pizarro.

Setelah Chelsea ia harus berjuang menemukan kembali ketajamannya  bersama Atletico Madrid, PSG, Fenerbahce, bahkan hingga ke South China. Ternyata 20 gol adalah masa lalu baginya dan kemudian memutuskan untuk pensiun pada usia 32 tahun.

Jika Kezman membangun reputasinya di Eredivisie,Afonso Alves hanya butuh 2 musim untuk mencuri perhatian Eropa. Lima kali hattrick dan meraih posisi runner up dibawah Francesco Totti sebagai topskor seantero Eropa, ia pun diganjar kontrak 20 juta poundsterling oleh Middlesbrough.


Mungkin terlalu berlebihan karena striker Brazil ini baru saja bersinar bersama Heerenven setelah lama berkarir di Liga Swedia. Tetapi Gareth Southgate, manajer Middlesbrough, yakin Alves akan bersinar.

Secara kebetulan baik Kezman dan Alves adalah dua penyerang yang datang setelah Jimmy Floyd Hasselbaink pindah dari Chelsea dan Middlesbrough.

Alves yang menurut beberapa pendapat sebenarnya ga bagus - bagus amat untuk standar striker Brazil, rupanya harus berjuang keras bermain di Liga Inggris. Harus mengawali musim perdana dengan cedera ia masih terselamatkan dengan catatan 11 kali main 6 gol. Namun musim berikutnya ketika ia sehat wal afiat dan turun di 31 pertandingan ia hanya mampu mencetak 4 gol.

Ia pun mengakhiri durasi kontrak 4 musim menjadi hanya dua musim dan pindah ke benua asia sampai saat ini bertualang bersama klub al-Rayyan hingga al-Gharaffa termasuk meraih gelar topskor AFC Cup pada tahun 2010.

Beruntung bagi Graziano Pelle ia bisa melebihi kedua striker pendahulunya meskipun sempat puasa gol dalam 15 pertandingan. Sejauh ini ia sudah mencetak 12 gol dan pernah juga meraih gelar player of the month.

Mungkin juga raihannya tersebut karena ia tidak menjadi penerus Jimmy Floyd Hasselbaink.

Thursday, May 21, 2015

Lord Atep, Bagusnya di Posisi Apa?

Lord. Gelar kebangsawanan Inggris ini disematkan pada Atep pemain asal Cianjur yang telah 5 musim lebih bergabung bersama Persib Bandung. Tentunya Ratu Elizabeth dari Inggris tidak memberikan gelar ini. Para bobotoh - lah yang menambahkan "Lord" sebagai penghargaan kepada Atep atas penampilan bagusnya diawal pertandingan grup AFC Cup 2015 dan QNB League 2015 yang sudah dituntaskan secara force majeure.

3 gol berturut - turut ke gawang New Radiant Maladewa, Ayeyawady United Myanmar, dan Lao Toyota FC, juga satu gol ke gawang PBR di QNB League membuat bobotoh melihat musim ini sebagai kebangkitan Atep.

Memang di 2 tahun terakhir Atep sebagai winger kiri mulai merubah (kembali) gaya bermainnya. Setelah sempat identik dengan dribble step over yang membuat ia disebut meniru Cristiano Ronaldo, kini ia lebih sering membuka ruang ke daerah sayap seperti pada  Piala Walikota Padang seperti pernyataannya tentang gaya bermain yang berubah.



Atep itu wasting time, ngalilakeun (berlama - lama), selalu ingin melewati lawan dengan gocekan dan berbagai kalimat yang mengekspresikan kegemasan kala melihat pemain kelahiran tahun 1985 ini bermain. Tapi bagaimana pun gemas dan kesal, semua hilang ketika ia mencetak gol. Soal naluri gol mesti diakui Atep bisa dijadikan pilihan.

Hanya saja selepas awal musim yang baik, Atep terlihat kembali mengalami penurunan. Saya lihat ia selalu ditempatkan disisi kiri dalam formasi 3 penyerang. Pun ia tidak dipatok tetap diam dikiri. Ia sering ada dikotak 12 untuk menyambar setiap umpan yang dilepas rekannya. Dalam beberapa pertandingan terakhir ia ditempatkan dilini depan bersama Tantan dan M.Ridwan. Dua nama ini yang kini menjadi motor serangan dan gol bagi Maung Bandung. Terutama Tantan yang mempunyai kemampuan untuk membuka pertahanan lawan.

Pada sisa 3 pertandingan babak grup AFC Cup, M.Ridwan mengambil alih peran sebagai goal getter. Dalam 2 pertandingan QNB League 2015, Atep seolah kehilangan sentuhan dalam melakukan dribble. Ia justru lebih banyak menutup peluang serangan ketika offensive play sedang dibangun.

Kegemarannya dalam mengelabui lawan sering terlihat hanya masalahnya lawan sudah tidak mudah ditipu lagi lewat kelincahan gerakan kakinya. Menempatkan ia disisi kiri sekarang bukanlah pilihan yang baik karena kecepatannya pun tidak prima lagi.

Menempatkan ia diposisi tengah pada 3 penyerang juga bukan pilihan yang baik meskipun Persib semenjak musim lalu jarang memakai striker murni tetapi penempatan Atep disitu juga rasanya tidak akan optimal.

Melihat rekor golnya di tahun ini, Atep kini bertanformasi sebagai right man on the right place. Dimana ada bola jatuh ke ruang yang tidak terkawal pemain bertahan lawan, ia akan memanfaatkannya, ia selalu ada di sisi blind side lawan. Ini sesuatu yang bagus karena di AFC Cup, Persib tidak memiliki striker berpengalaman.

Masalah akan timbul ketika inisiator serangan di kiri maupun kanan sedang mengalami kemandekan, karena itu tadi ada yang menurun dari performa Atep. 

Rasanya baik Jajang Nurjaman maupun Emral Abus, harus kembali mengotak - atik formasi jika Ilija Spasojevic belum bisa diturunkan pada babak 16 AFC Cup 27 Mei mendatang.

sumber:
simamaung.com
panditfootball.com

Wednesday, May 20, 2015

Nice Job Bachdim


Pesepakbola Indonesia, Irfan Bachdim yang bermain untuk klub Consadole Sapporo di Divisi 2 J. League berturut - turut tampil untuk timnya di bulan Mei ini. Pertama kali ia dipercaya untuk turun pada pertandingan melawan Jubilo Iwata, kemudian lawan Ehime FC, Ruasso Kumamoto dan terakhir Gunma FC ketika ia harus ditarik kembali karena menderita cedera.

Meskipun selalu tampil dibabak kedua dan sejauh ini mengumpulkan minute play sebanyak 70 menit, tetapi Irfan mulai dipercaya oleh manajer Ivica Barbaric. Irfan dalam 4 penampilannya tersebut terlihat diintruksikan untuk bermain melebar dan lebih banyak memberikan umpan ke depan.

Pesepakbola yang mengawali karir bersama FC Utrecht ini memang lebih cocok untuk berkarir diluar negeri. Ia hanya menghabiskan 3 tahun di Indonesia bersama klub Persema Malang (2010 -2013). Kemudian pindah ke Thailand bersama Chonburi FC (2013-2014), sempat dipinjamkan ke Sriracha FC dan selanjutnya bergabung bersama Ventforet Kofu (2014).

Tampil 4 kali berturut - turut meski hanya sebagai pemain pengganti, adalah kemajuan berarti bagi Irfan, karena musim sebelumnya di Ventforet ia hanya turun sekali itupun sebagai pemain pengganti. Ia pun masuk ke dalam 115 daftar pemain timnas yang diajukan ke pelatih Peter Huistra.